Berbagi Mobil, Tren Baru di Negara Produsen Otomotif Ini

MESKI Jepang produsen otomotif nomor wahid di dunia, masyarakat di ‘Negeri Matahari Terbit’ ternyata harus berpikir dua kali untuk memiliki mobil sendiri. Harga mobil memang terjangkau, tetapi biaya operasionalnya sangat mahal. Biaya parkir di tempat umum, misalnya, mencapai 500 yen (sekitar Rp60 ribu) per jam. Biaya parkir di apartemen di pusat kota Tokyo mencapai 20 ribu yen (sekitar Rp2,36 juta) per bulan. Belum lagi harga bensin mencapai 168 yen (sekitar Rp20 ribu) per liter.

Untuk menghemat ongkos, masyarakat Jepang, khususnya di Tokyo, berbagi mobil dengan menjadi anggota perusahaan carsharing. Mereka sering disebut sebagai anggota klub berbagi mobil (car-sharing club). Perusahaan car-sharing berbeda dengan perusahaan penyewaan mobil (car rental). Untuk menyewa mobil di car rental, orang tidak harus jadi anggota.

Namun, untuk berbagi mobil di perusahaan car-sharing, keanggotaan merupakan hal wajib. Iuran keanggotaan di perusahaan car-sharing biasanya kurang lebih 1.000 yen (sekitar Rp120 ribu). Untuk memakai mobil, anggota dikenai biaya per jam atau rata-rata 3.000 yen (sekitar Rp354 ribu) untuk pemakaian seharian.

Anggota pun diijamin mendapat mobil ketika membutuhkannya. Dengan menjadi anggota klub car-sharing, tidak perlu lagi membeli mobil–yang di masa mendatang harganya bakal menyusut. Lagi pula, transportasi umum di Jepang terbilang laik sehingga tidak setiap hari kendaraan pribadi dibutuhkan. Mahalnya biaya parkir di apartemen pun tidak perlu dipikirkan. Seusai dipakai, mobil harus disimpan di pool perusahaan. Anggota klub juga tidak perlu beli bensin.

Ada sejumlah perusahaan car-sharing di Jepang, di antaranya Timescar dan Orix. Timescar memiliki lebih dari 5.000 pool di posisi-posisi strategis di Tokyo untuk memudahkan anggota menjangkaunya. Bila dihitung-hitung, dengan tingkat pemakaian mobil terbilang sangat sering, anggota klub berbagi mobil biasanya hanya menghabiskan 9.000 yen (sekitar Rp1,062 juta) per bulan. Bandingkan bila memiliki mobil sendiri yang untuk ongkos parkir di apartemen saja sudah menghabiskan 20 ribu yen per bulan.

Menurut warga negara Indonesia yang tinggal di Tokyo, Andry Yudha Kusumah, tren klub berbagi mobil itu baru berlangsung dua tahun terakhir, umumnya dilakoni kalangan penduduk Jepang dengan anak-anak usia remaja atau dewasa. “Kalau orang Jepang yang anak-anaknya masih kecil, biasanya punya mobil sendiri,“ ujar Yudha kepada wartawan Media Indonesia Usman Kansong, di Tokyo, baru-baru ini.

Tren berbagi mobil, selain mengirit duit pribadi, tentu hemat konsumsi BBM dan mengurangi kemacetan lalu lintas. “Boleh juga Indonesia, terutama Jakarta, yang memiliki problem BBM bersubsidi dan kemacetan, meniru tren berbagi mobil seperti di Jepang,“ ucap Yudha yang sudah 7 tahun bermukim di Tokyo. (E-2) Media Indonesia, 20/08/2014, halaman 17

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>