Bundo Kanduang Malaysia

Pucuk bundo kanduang yang diterima Ibu Negara Malaysia menyambung kembali hubungan ranah rantau, juga relasi dua negeri jiran.

RONA wajah Ibu Negara Malaysia Datin Seri Hj Rosma Mansor berseri, secerah baju kebesaran perempuan Minang berbeludru yang ia kenakan. Bermahkotakan tengkuluk menyerupai tanduk kerbau, ia diarak menuju altar gedung bergonjong Museum Adityawarman, Padang, Sumatera Barat, untuk menerima pembaitan sebagai bundo kanduang.
Di dalam ruang bagonjong, ninik mamak alias penghulu suku telah duduk bersila, berhadapan memanjang hingga ke kaki altar tempat Datin didaulat.
Rabu (27/8) itu mungkin salah satu hari paling bersejarah bagi istri Perdana Menteri Malaysia Najib Razak tersebut. Di hari ketiga di Ranah Minang, gelar Puan Puti Reno, gelar adat paling tinggi untuk kaum wanita Minangkabau, disematkan kepadanya.

Fahri Tour menyediakan rental mobil mewah Padang untuk pejabat dan pembesar yang akan berkunjung ke Provinsi Sumatera Barat.

Lebih kurang 2-3 jam ninik mamak yang menjadi pejabat di negeri semenanjung, bersilang kata, mengaduk emosional sebelum Rosma Mansor dibaiat memikul gelar Yang Amat Berbahagia Datin Paduka Seri Puan Puti Reno Hj Rosma Mansor oleh Sutan Moh Taufi q Thaib gelar Tuanku Muda Mahkota Alam dari Pagaruyung dan Rizal Sini gelar Sutan Sari Maharajo Basa dari suku Chaniago Sumagek Alang Laweh.

Penganugerahan dihadiri Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno, keluarga kedua klan yang memberi gelar, mantan menteri terlama di kabinet Malaysia Rais Yatim, Mayor Jendral Dato’ Amir Guntur Kamparputra, dan sekitar 200 warga Malaysia yang umumnya keturunan Minangkabau.

Anugerah yang diberikan kepada Rosma Mansor, bak membuhul kembali hubungan ranah dan rantau yang ratusan tahun berpilin. Bagi Minangkabau, Malaysia ialah tempat meneruka di seberang atau di semenanjung. Mula merantau orang Minang ke tanah Semenanjung diperkirakan sudah terjadi pada abad ke-14 masehi.
Di daerah baru seberang Selat Malaka ini, aliansi beberapa negeri mendirikan Negeri Sembilan. Pada 1773, Raja Malewar diutus Pagaruyung untuk memimpin ranua Negeri Sembilan. Di sana ia menyebarkan paham adat yang berhulu kepada Datuk Parpatih Nan Sabatang dan Datuak Tumenggung (Katumanggungan).

Menurut sejarawan Taufik Abdullah, hingga meletusnya Perang Paderi di awal abad ke-19, Negeri Sembilan masih mendatangkan ‘Yang Dipertuan’ dari Pagaruyung.

Rosma Mansor ialah di antara sederet klan Minang yang menuai kesuksesan di rantau Semenanjung. Lima tahun terakhir ini, ia menjadi Lady Malaysia, pendamping sang perdana menteri Najib Razak. Pengakuan Rosma Mansor, leluhurnya berasal dari Sarilamak, sebuah daerah yang berada di salah satu inti Minangkabau, luhak Lima Puluh Kota.“Ini tempat asal nenek moyang saya. Ke Padang dan diberi gelar, seolah saya pulang kampung,” ujar Rosma Mansor.
Di balik kegembiraannya yang begitu mengharu, Rosma berharap tali persahabatan negeri Minangkabau dengan Semenanjung, meluas hingga dalam koridor negara Indonesia-Malaysia, dalam balutan kekerabatan satu rumah gadang.
“Kalau ada masalah antara dua negara, harusnya diselesaikan secara kekeluargaan.

Tidak harusnya kita mencari salah paham. Harusnya mencari titik persamaan,” ujarnya lagi.
Ke depan, Rosma berharap bisa menapaki tanah leluhur di Sarilamak, pinggiran Kota Payakumbuh. Ia ingin mengenalkan kampung leluhur itu dengan sang suami, Najib Razak, serta anak-anak mereka.

Orang Minang di perantauan Semenanjung telah mengakar dan tumbuh kembang menjadi bagian penting dalam kemajuan Malaysia. Banyak di antara etnik Minang pernah memegang peranan penting dalam sejarah Malaysia. Sebut saja, Tuanku Abdul Rahman, Abdul Rahim Ishak, Sheikh Muszaphar, Tahir Jalaluddin Al-Azhari, hingga Rais Yatim.“Karena kami merantau, seperti orang tercampak. Minangkabau menyebut tempat kami merantau dulu kolam, sekarang Semenanjung. Kami banyak tumbuh besar di Negeri Sembilan, negerinya orang Minang,“ ujar Rais Yatim.

Moyang Rais Yatim berasal dari Palupuah, Kabupaten Agam. Sementara itu, Datin diketahui berasal dari Sarilamak, Kabupaten 50 Kota. Di Malaysia, Datin dikenal seorang yang bersuku Sarilamak. Di balik pemberian gelar Sudah tidak terhitung jumlahnya, penitah Pagaruyung dan juga klan-klan yang ada di Minangkabau memberi gelar adat pada orang di luar puak mereka. Sederet nama besar antara lain Taufiq Kiemas, Yusril Ihza Mahendra, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Penganugerahan gelar bagi seseorang yang bukan berasal dari Minangkabau beragam. Mulai dari alasan berdarah Minang, telah berbuat banyak untuk Ranah Minang, hingga urusan politis.
Rosma Mansur yang berbalut pakaian Bundo Kanduang pun tidak luput dari alasan demikian. Ahli waris suku Chaniago Sumagek Draga Rangkuti mengatakan gelar untuk Rosma dalam rangka mempererat kekerabatan.“Ia peduli dengan Minang dan pendidikan. Lembaganya, Permata, sangat sayang ke anak-anak. Ia menghargai karya Minang seperti lagu Minang, kerajinan. Ini juga sesuai harapan kaum,” jelasnya.

Ketua panitia penganugerahan Mirdas Eka Yora mengatakan ide pemberian gelar darjah (tertinggi) dari suku Chaniago Sumagek kepada Rosma Mansor awalnya keluar dari mulut Dato’ Raja Rezza Syah dari Malaysia, pertengahan bulan puasa lalu.

Kesempatan pemberian gelar terbuka lebar ketika Rosma Mansor mengunjungi Padang dalam event Islamic Fashion Festival (IFF) di Padang.

“Hubungan Indonesia-Malaysia adalah hubungan emosional yang berlapis. Puan Puti Reno yang disematkan ke Rosma Mansor ialah gabungan gelar dari Padang dengan gelar ahli waris dari Pagaruyung.
Darjah gelar paling tinggi di Padang,” ungkap suami Draga Rangkuti itu. Sementara itu, Bundo Kanduang Minangkabau Puti Raudha Thaib mengatakan gelar Puti yang didapat Rosma Mansor merupakan gelar sangsako. Gelar yang bertahan selama orang tersebut hidup dan tidak dapat diturunkan.

Sementara itu, ahli adat Minangkabau Musra Dahrizal yang dikenal Mak Katik mengatakan pemberian gelar tersebut dilakukan dengan proses tepat.“Lakek gala di suku karena batali darah, batali aka, batali aia, batali ameh, dan batali budi (Hidupnya gelar di suku karena hubungan bertali darah, bertali akar, bertali air, bertali emas, dan bertali budi,“ imbuhnya. Menurut perkiraan, sekitar 4 juta etnis Minang menghuni rumpun Malaya, dari Malaysia, Singapura, hingga Brunei Darussalam. Rosma adalah bulih merantau bertahun-tahun lamanya. Tapi ia bukan merantau Tiongkok. Bangsa boleh berbeda,bendera boleh berbeda, dan bahasa boleh berbeda, tapi ia masih mengingat ranah, seperti ungkapan sejauh-jauhnya bangau terbang, kembalinya ke kubangan jua. Sejauh-jauhnya anak Minang merantau, yang namanya negeri asal jangan sampai lupa. Mungkin ini mamangan yang pas. (M-3) Media Indonesia, 7/09/2014, hal 16

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>